Aku terjebak pada tiga kota.
Satu kota, kampung halaman, tempat berpacu do’a, harap dan air mata
Satu kota, kota pecinta, tempat tergantung seluruh rasa
Satu kota, tempat seluruh janji dibuat untuk setia
Aku terjebak pada tiga hati.
Satu hati, sungguh paling mengerti, namun perihnya masih berdenyut
Satu hati, menyerah kalah, walau sosoknya sungguh kupuja
Satu hati, terus berjuang, meski pastiku tak dapat terpegang
Aku terjebak pada tiga rasa.
Satu rasa, cinta bercampur rasa iba dan kecewa
Satu rasa, takut untuk jatuh cinta
Satu rasa, ketidakpastian namun berujung cita cita
Aku…terjebak…pada…tiga
1 note
Ketika kata-kata itu mulai terucap dari mulutmu, maka KITA bukan lagi KITA. Aku dan Kamu bukan lagi dua manusia yang berbagi cerita-dan bukannya cinta-Maka hentikan saja, biarkan semua menjadi sama seperti biasa.
Kamu tahu, dan Aku tahu tentang semua rasa yang selalu berbaring didalam dada. Rasa yang kita diamkan begitu saja seolah tidak pernah ada. Namun memang begini saja, tidak perlu kita pelihara karena kita tidak perlu berbagi cinta, walaupun sama-sama saling merasa. Biarkan semua menjadi benar-benar sama.. seperti biasa. Seperti yang selalu ada.
Ini sudah indah. Aku dan Kamu telah berharmoni dengan sangat indah. Jadi jangan lagi tambahkan satu nada yang entah akan menjadikannya seperti apa. Biarkan saja lagu tua ini kita dendangkan, lagi lagi dan lagi. Sampai kita tertidur dalam dendang bahagia.
Jadi, jangan kamu mengucap kata. Biarkan kita tetap menjadi seperti apa yang ada.
Dan kini..
Ketika semua perih terhapuskan..
Tersisa satu kesimpulan..
Bahwa waktu ternyata sahabat terbaikmu..
Membebaskan, memaafkan, melepaskan..
2 notes

..dan kau berkata, ketika aku siap melangkah masuk kedalam lingkaran baru tentang kita, maka kau akan ada disana..
sementara itu, kau akan menghabiskan waktu memetik bunga, untuk menghias rambutku, nanti jika kita telah bersama.
..dan kau juga berkata, tidak akan pernah memaksa hatiku merasa sama, hanya memastikan bahwa akan setia menyimpan semua rasa..
sementara itu, biarkan aku diam disini.. melangkah perlahan sampai akhirnya kita berdua..
Sebenarnya begini saja sudah cukup, sayang.
Ada tanganku, ada tanganmu, dan kita bergenggaman mencari tenang.
Sebenarnya ini sudah cukup..
Tetap pada pijak kaki kita sendiri, tanpa menegadah kepada yang terlalu tinggi.
Sebenarnya seperti ini sudah cukup, sayang.
Namun manusia memang tak pernah lelah berharap.
Dan entah, sepertinya harap kita tak pernah berbeda
kepada harap yang tak pernah berhenti berdetak, semoga berujung pada senyum.. :)